SBI Holdings: Ambisi Kripto Raksasa Keuangan Jepang dan Cetak Biru Infrastruktur Digital
Dalam hitungan hari, SBI dengan cepat bertransformasi dari citra lembaga keuangan tradisional menjadi salah satu pelaku Web 3 paling aktif di Jepang.
Penulis: BlockBeats
Pekan lalu, raksasa keuangan Jepang SBI Group secara berturut-turut mengumumkan berita besar: pertama mengumumkan kerja sama dengan Circle, Ripple, dan Startale, lalu segera menggandeng Chainlink untuk bersama-sama mendorong solusi stablecoin, tokenisasi RWA, dan pembayaran lintas negara. Dalam hitungan hari, SBI bertransformasi dari citra "institusi keuangan tradisional" menjadi salah satu pelaku Web 3 paling aktif di Jepang.
Ini bukan sekadar kerja sama bisnis biasa, melainkan lebih seperti sinyal yang dikirim SBI ke pasar: mereka ingin meraih peluang dalam gelombang perubahan infrastruktur keuangan berikutnya, naik kelas dari "penyedia layanan keuangan" menjadi "penyedia infrastruktur aset digital". Dengan stablecoin yen yang akan segera diluncurkan dan koridor kripto Asia yang mulai terbentuk, langkah SBI ini jelas mendorong mereka ke garis depan transformasi digital keuangan Jepang.
Raksasa Keuangan Tradisional Sedang Membangun Peta Keuangan Digital Jepang
Kisah SBI dapat ditelusuri kembali ke tahun 1999, saat masih menjadi SoftBank Investment di bawah naungan SoftBank, dengan nama yang diambil dari inisial SoftBank Investment. Setelah menjadi independen pada tahun 2006, perusahaan resmi berganti nama menjadi SBI Holdings, Inc., berkantor pusat di Tokyo. Awalnya, mereka berfokus pada tiga bisnis inti: sekuritas, perbankan, dan asuransi, lalu secara bertahap memperluas ke manajemen aset dan bioteknologi, membentuk grup komprehensif yang melintasi sektor keuangan dan medis.
Lebih dari dua dekade berlalu, SBI bukan lagi pemain kecil, melainkan telah tumbuh menjadi pemain penting yang tak bisa diabaikan di pasar keuangan Jepang. Banyak pihak bahkan menganggapnya sebagai penantang terkuat di luar tiga bank besar (Mitsubishi UFJ, Sumitomo Mitsui, Mizuho)—calon bank keempat terbesar. Kini, kerangka bisnis SBI berpusat pada lima bidang utama: layanan keuangan, investasi ekuitas swasta, manajemen aset, aset kripto, dan bisnis generasi berikutnya. Strategi diversifikasi ini tidak hanya membuat mereka kokoh di pasar Jepang, tetapi juga menjadi fondasi alami untuk masuk ke ranah aset digital.
Yang lebih penting, SBI bukan sekadar ikut-ikutan tren. Di balik pengumuman kerja sama yang sering belakangan ini, mereka sebenarnya telah lama menanamkan akar di ekosistem kripto. Berbekal fondasi keuangan tradisional di bidang sekuritas dan manajemen aset, SBI melalui anak perusahaannya secara bertahap memperluas jangkauan ke perdagangan, pembayaran, kustodian, pinjaman, layanan likuiditas, dan hampir membangun seluruh infrastruktur keuangan digital. Pada saat yang sama, mereka juga tidak melewatkan peluang baru Web 3, mulai dari NFT, keuangan terdesentralisasi, hingga tokenisasi aset dunia nyata, SBI terus bereksperimen. Yang paling penting, mereka berani beraliansi dengan raksasa internasional: baik Ripple, Circle, maupun R3, semuanya bekerja sama dengan mereka untuk mengeksplorasi kemungkinan baru stablecoin, pembayaran lintas negara, dan tokenisasi.
Dengan kata lain, SBI hari ini bukan lagi sekadar grup keuangan tradisional Jepang, melainkan salah satu dari sedikit "mesin ganda" di Asia Timur—satu kaki berpijak di tanah subur keuangan tradisional, satu kaki lagi melaju kencang di gelombang keuangan kripto.
Dari Nol ke Satu: SBI Meraih Satu-satunya Lisensi Stablecoin di Jepang
Di jalur stablecoin, SBI memanfaatkan keunggulan kepatuhan sebagai pelopor. Sejak tahun 2023, ketika FSA Jepang melonggarkan larangan penerbitan stablecoin asing di dalam negeri, SBI dengan cepat menangkap peluang dan segera menandatangani kerja sama strategis dengan Circle. Hanya setahun kemudian, platform SBI VC Trade milik mereka berhasil menyelesaikan registrasi perdagangan USDC, menjadi perusahaan pertama dan satu-satunya di Jepang yang memegang lisensi stablecoin, serta menjadi yang pertama meluncurkan USDC ke pasar.
Selanjutnya, SBI dan Circle mendirikan perusahaan patungan Circle SBI Japan, khusus untuk mempromosikan adopsi USDC di Jepang. Pada Juni 2025, saat Circle go public, SBI kembali berinvestasi sebesar 50 juta dolar AS, semakin mempererat hubungan kedua belah pihak. Pekan lalu, kedua perusahaan kembali memperluas kerja sama, berencana mengintegrasikan USDC lebih dalam ke pembayaran lintas negara dan layanan keuangan digital. Melalui serangkaian langkah ini, SBI tidak hanya unggul dalam kepatuhan dan infrastruktur, tetapi juga menjadi jembatan kunci bagi Circle untuk memasuki pasar Asia. Kinerja bisnis aset digital mereka juga sangat mengesankan: pada 2024, pendapatan terkait telah mencapai 80 miliar yen, tumbuh lebih dari 40% dibanding tahun sebelumnya, dan jumlah pengguna dalam setahun melonjak dari 800 ribu menjadi 1,65 juta.
Jika USDC adalah pintu masuk SBI ke dunia stablecoin, maka RLUSD dari Ripple adalah jembatan mereka untuk pembayaran lintas negara. Pekan lalu, SBI mengumumkan akan membawa RLUSD ke pasar Jepang, dengan rencana peluncuran resmi pada kuartal pertama 2026. Desain stablecoin ini sangat sederhana: menggabungkan stabilitas dolar AS dengan kecepatan blockchain, sehingga tetap patuh dan transparan, serta memungkinkan penyelesaian dalam hitungan detik. Misalnya, jika pengguna AS ingin mengirim dolar ke Jepang, dana akan dikonversi ke XRP terlebih dahulu, dikirim lintas negara melalui blockchain dalam beberapa detik, lalu diubah kembali ke yen di Jepang, sementara RLUSD berperan sebagai aset jangkar untuk menjamin stabilitas dan kredibilitas dana lintas negara.
Melalui strategi "dua jalur" bersama Circle dan Ripple, SBI hampir membangun peta stablecoin yang lengkap: USDC untuk pembayaran dan perdagangan, RLUSD fokus pada penyelesaian lintas negara dan layanan korporat. Kedua jalur ini membuat SBI berdiri kokoh di pusat panggung stablecoin Asia.
Kebangkitan RWA, SBI Membangun Robinhood Versi Jepang
Selain stablecoin, SBI juga mengarahkan perhatian ke RWA (tokenisasi aset dunia nyata). Ini adalah salah satu jalur dengan pertumbuhan tercepat dalam dua tahun terakhir—dari 5 miliar dolar AS di awal 2023, melonjak menjadi hampir 30 miliar dolar AS saat ini, meningkat lebih dari lima kali lipat. Obligasi, reksa dana, dan surat utang negara adalah aplikasi utama saat ini, tetapi aset saham masih kurang dari 1%, sehingga potensi pertumbuhannya sangat besar.
Bayangkan, Anda membeli obligasi yang biasanya butuh beberapa hari untuk penyelesaian, namun jika di-chain, bisa selesai secepat transfer dana. Atau reksa dana yang secara tradisional memiliki batasan investasi tinggi dan pencairan lambat, setelah tokenisasi, menjadi seperti tiket digital yang bisa diperdagangkan 24 jam kapan saja. Bagi investor, ini adalah kemudahan yang belum pernah ada sebelumnya; bagi institusi, ini adalah peningkatan efisiensi dana yang luar biasa. Tak heran jika raksasa luar negeri seperti Gemini, Kraken, Robinhood, dan lainnya, berlomba-lomba meluncurkan platform perdagangan tokenisasi 24 jam serupa.
SBI jelas tidak mau tertinggal. Pada 2025, grup ini bekerja sama dengan perusahaan infrastruktur Web 3 Startale, mendirikan platform tokenisasi on-chain di Jepang, memperoleh pendanaan berdasarkan milestone, dan menargetkan membangun sistem lengkap yang mencakup penerbitan, penyelesaian, kustodian, dan interoperabilitas lintas chain.
Yang lebih penting, SBI tidak berjalan sendirian, mereka juga menggandeng "tukang ledeng" global di bidang blockchain—Chainlink. Perusahaan ini paling ahli dalam membangun "interkoneksi" antar blockchain. Sederhananya, Chainlink memungkinkan token di berbagai chain dapat berpindah dengan lancar, seperti transfer antar bank yang berbeda. Kali ini, Chainlink akan membantu SBI memastikan keamanan dan kepatuhan transaksi lintas chain saat tokenisasi aset seperti obligasi dan properti. Selain itu, Chainlink juga akan membawa data nilai aktiva bersih (NAV) reksa dana ke on-chain, menciptakan transparansi publik sehingga investor dapat memantau nilai aset kapan saja; teknologi Proof of Reserve mereka juga akan menyediakan verifikasi on-chain untuk stablecoin dan reksa dana, menghindari risiko ketidaksesuaian antara aset di atas kertas dan cadangan aktual.
Jika Robinhood di Amerika berarti membawa saham dan derivatif kripto ke tangan investor ritel dengan tanpa hambatan, maka SBI sedang mencoba menapaki jalan serupa di Jepang. Berbekal fondasi kuat di bidang sekuritas dan perbankan, ditambah langkah awal mereka di stablecoin dan RWA, SBI berupaya mendorong aset tokenisasi ke saluran investasi yang lebih luas. Bagi investor Jepang, ini berarti mereka dapat melakukan perdagangan saham dan obligasi 7×24 jam seperti transfer dana, dan yang lebih penting, mereka dapat langsung berpartisipasi dalam pasar keuangan kripto global dalam kerangka yang patuh dan aman. Dengan kata lain, platform RWA yang dibangun SBI bukan sekadar peningkatan teknologi, melainkan eksperimen inklusi keuangan ala Robinhood, yang berpotensi menjadi momen penting bagi pasar modal Jepang memasuki era Web 3 secara resmi.
Dari Bank Keempat ke Raksasa Infrastruktur Aset Digital
Bagi SBI, masuk ke dunia kripto bukanlah keputusan sesaat, melainkan kelanjutan strategi yang alami. Jepang telah lama berada dalam lingkungan suku bunga ultra-rendah, bisnis keuangan tradisional seperti perbankan dan sekuritas sudah sangat homogen, dan ruang keuntungan semakin sempit. Sementara itu, stablecoin dan tokenisasi aset dunia nyata (RWA) secara global sedang memasuki jalur cepat kepatuhan. FSA Jepang pada 2023 melonggarkan regulasi stablecoin, yang berarti memberi lampu hijau untuk jalur baru ini. SBI tidak memilih untuk menunggu, melainkan langsung bertindak, menggandeng Circle, Ripple, dan mitra internasional lainnya, dari penonton industri menjadi pembuat aturan, dan menjadi yang pertama mengambil posisi di dua medan perang paling potensial: stablecoin dan RWA.
Lebih dalam lagi, ini bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan juga transformasi identitas. Dulu, orang melihat SBI sebagai bank keempat Jepang; sekarang, mereka berusaha naik kelas menjadi raksasa infrastruktur pertama di era aset digital. Saat ini, SBI sedang mempersiapkan peluncuran kontrak berjangka bitcoin domestik pertama di Osaka Dojima Exchange, dan menargetkan laba bisnis aset digital mencapai 50 miliar yen pada tahun fiskal 2028, setara dengan pertumbuhan 150% lagi. Ini berarti ambisi SBI telah melampaui kerangka keuangan tradisional, dan taruhan mereka yang sebenarnya adalah masa depan integrasi mendalam antara sistem keuangan Jepang dan blockchain. Dengan kata lain, SBI tidak hanya bertaruh pada naik turunnya harga aset kripto, tetapi ingin menjadi pemain utama dalam rekonstruksi tatanan keuangan global berikutnya.
Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.
Kamu mungkin juga menyukai
Berita trending
LainnyaPeringkat Bull dan Bear Saham Hong Kong Mingguan | Privatisasi memicu reli Dongfeng Group; Imajinasi AI mendorong harga saham YOFC naik 43% dalam seminggu; Kinerja Oriental Selection anjlok, harga saham turun lebih dari 25%
Sebagian besar tarif Trump dinyatakan ilegal, kebijakan perdagangan Gedung Putih mengalami pukulan berat
Harga kripto
Lainnya








